MARET 2003

EDISI LALU

TENTANG KAMI

DAFTAR ISI
DIREITO UTAMA
DIALOG
JUSTIÇA
PEMBERDAYAAN RAKYAT
TEROPONG KEBIJAKAN
HAK ASASI
INSTRUMEN HAM
GUGAT
DIREITO UTAMA
Agar Dialog Nasional Berguna Bagi Masa Depan

Ada masalah penting yang harus diselesaikan, tetapi sepertinya malah dihindari dalam dialog nasional. Yaitu masalah-masalah yang muncul selama perjuangan, terutama di dalam tubuh FALINTIL dan FRETILIN. Agar mencapai hasil, dialog harus menghadirkan para pemimpin perjuangan dari semua front, yaitu front perjuangan bersenjata, front klandestina dan front diplomatik untuk mempertanggungjawabkan perjuangan kepada rakyat.

Bahwa dialog nasional diadakan untuk menyelesaikan masalah CPD-RDTL (Commissão Popular de Defesa da República Democrática de Timor Leste) hampir semua orang mengetahuinya. Tetapi apa sesungguhnya masalah mereka dan dengan siapa? Ini merupakan pertanyaan dasarnya. Dalam demonstrasi-demonstrasi mereka, CPD-RDTL menyatakan bahwa mereka menuntut restorasi kemerdekaan 28 November 1975, lengkap dengan bendera nasional yang dikibarkan pada hari proklamasi tersebut, lagu kebangsaan, teks proklamasi, Konstitusi RDTL 1975, dan FALINTIL sebagai tentara nasional.


FALINTIL: di hutan ada Masalah(Foto UNKNOWN)

Tetapi L-7 alias Leki Nahak Fohorai Boot, mantan Segundo Comandante Região 3 FALINTIL melihat bahwa ada masalah lain yang justru merupakan masalah yang sebenarnya. “Keinginan mereka (CPD-RDTL) adalah menyelesaikan masalah mengapa Kilik, Oka, dan Carlele mati serta Mauk Moruk dan Ologari menyerah, kata L-7 kepada Oscar da Silva dan Rogerio Soares dari Direito. Menurutnya, pada tahun 1983 terjadi pertentangan antar pemimpin FALINTIL di hutan, yaitu antara Mauk Moruk dan Ologari sebagai Primeiro dan Segundo Comandante Brigada Vermelha FALINTIL di satu sisi dengan Xanana Gusmão di sisi lain. “Masalah ini sampai sekarang belum diselesaikan, sehingga mereka (CPD-RDTL) ingin menyelesaikannya. Tetapi persoalan ini pada dialog 25 Januari 2003 tidak ada penyelesaiannya,” lanjut L-7.

Pertikaian antar pemimpin perjuangan ini terjadi ketika akan diadakan perundingan antara Panglima FALINTIL Xanana Gusmão dengan Komandan Korem Timor Timur Kolonel Purwanto. Perundingan yang menghasilkan kesepakatan penghentian tembak-menembak antara ABRI dengan FALINTIL ini lebih dikenal dengan sebutan “Kontak Dame.” Menurut L-7, karena keadaan tidak memungkinkan para pemimpin saat itu tidak bisa mengadakan rapat untuk membahas perundingan ini. Mereka hanya berhubungan melalui surat. “Dalam surat-menyurat itu ada kata-kata yang baik, ada kata-kata yang tidak baik. Yang tidak baik kadang-kadang emosional. Maka terjadilah saling marah. “Persoalan ini tidak sempat diselesaikan. Mauk Moruk turun dengan sejumlah senjata. Ologari mereka lucuti, kemudian jalan terpisah. Oka juga mereka lucuti, jalan sendiri sampai mati. Kilik kami tidak tahu, dibunuh Indonesia atau orang kami sendiri yang membunuh. Kami tidak tahu,” kata L-7.

Menurut L-7, masalah tersebutlah yang seharusnya diselesaikan sekarang. Xanana Gusmao harus ada, demikian pula Ologari dan Mauk Moruk. Penyelesaian yang tepat adalah melalui apa yang dulu dikenal sebagai “oto-kritik.” “Misalnya ada yang melakukan kejahatan. Ia harus menjelaskan mengapa melakukan hal tersebut. Ini bukan untuk memasukkan orang itu ke penjara. Bukan untuk membalas dengan melakukan kekerasan. Ini kita tidak mau. Tetapi otokritik dilakukan agar kekerasan itu tidak terjadi lagi,” papar L-7.

L-7 juga mengusulkan agar dilakukan penyelesaian dengan menghadirkan pemimpin tiga front perjuangan (bersenjata, klandestina, dan diplomasi). Para pemimpin masing-masing front ini harus memberikan laporan dan melakukan otokritik. “Dalam dialog itu FALINTIL memberilan laporan. Rakyat bisa bertanya kepada FALINTIL, mengapa perang sudah selesai kalian terpecah-belah? Frente diplomatika itu keluar negeri karena diutus rakyat. Rakyat bisa bertanya, megnapa kalian pulang sendiri-sendiri, membuat partai sendiri-sendiri?” demikian gambaran yang diberikan L-7.

Ketujuh orang pemimpin diplomatik yang harus hadir menurut L-7 adalah Abílio Araújo, Marí Alkatiri, José Ramos-Horta, Rogério Lobato, Roque Rodriguez, Ana Pessoa, dan José Luís Guterres. ***