APRIL 2003

EDISI LALU

TENTANG KAMI

DAFTAR ISI
DIREITO UTAMA
DIALOG
JUSTIÇA
PEMBERDAYAAN RAKYAT
TEROPONG KEBIJAKAN
HAK ASASI
INSTRUMEN HAM
GUGAT
PEMBERDAYAAN RAKYAT
MENGEKSPOR KOPI KE JEPANG
Kelompok tani di Liquilua membuktikan bahwa dengan kerja keras secara bersama mereka bisa meningkatkan penghasilan dari pertanian. Kopi hasil mereka bahkan sudah diekspor ke Jepang melalui jalur perdagangan yang adil (fair trade) yang merupakan alternatif terhadap perdagangan kopi yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar, yang justru tidak menguntungkan petani.

Secara umum kehidupan penduduk Maubisse tergantung pada pertanian. Maubisse dikenal sebagai penghasil sayur-sayuran dan kopi. Setelah terjadi penghancuran besar 1999, petani di sana sulit untuk bertani karena alat-alat pertanian dan bibit habis dibakar oleh milisi.

Menghadapi keadaan itu, ada orang-orang yang berusaha mencari jalan agar penduduk bisa keluar dari kebingungan dan bekerja untuk membangun bangsa. Adolfo Mendonça Tilman, adalah seorang penduduk Maubisse yang setelah penghancuran, bekerja sebagai petugas keamanan disalah satu organisasi non-pemerintah (NGO) asing di Maubisse. Di sela-sela tugasnya, ia sering bertukar pikiran dengan para staf Rumah Rakyat II Maubisse (cabang dari Perkumpulan HAK di Maubisse yang wilayah kerjanya meliputi distrik Aileu, Ainaro, dan Suai). Dalam pembicaraan-pembicaraan, muncul ide untuk mengorganisasikan kelompok tani.

Sebagai langkah awal, pertengahan 2000 Adolfo bersama Mariano da Silva Ferreira (saat itu menjadi kepala Rumah Rakyat) berdiskusi dengan penduduk Aldeia Liquilua (Maubisse), kampung halaman istri Adolfo. Mariano da Silva menyampaikan pengalaman pengorganisasian petani di Alas (Distrik Manufahi) dan Luro (Distrik Lautem), yang mendapat dukungan dari Perkumpulan HAK (saat itu masih bernama Yayasan HAK). Penduduk Liquiloa pun menjadi terdorong untuk mengerjakan pertanian seperti yang telah dikerjakan di Alas dan Luro, yaitu mengolah lahan pertanian secara berkelompok, dengan peralatan yang masih tersisa dan bibit apa adanya.


Anggota kelompok Liquilua menggarap kebun
(Foto: Rogério Soares/Direito)

Sejak Agustus 2000 para petani Liquilua mulai membentuk kelompok. “Kami membentuk regu kerja yang terdiri dari 7-8 orang yang bertugas membersihkan ladang dan kebun milik pribadi setiap anggota,” kata salah seorang anggota kelompok, Raimundo Alberto Carlos, kepada Rogério Soares dari Direito. Lahan pribadi setiap anggota kelompok dikerjakan secara kolektif, sedang hasilnya tetap menjadi milik pribadi. Kelompok petani yang awalnya beranggotakan 18 orang ini diberi nama “Kelompok Tani Liquiloa.” Adolfo Mendonça Tilman menjadi ketuanya.

Perkumpulan HAK memberikan bantuan dengan mencarikan bibit kol (kubis), kentang, kacang merah, wortel, selada, bawang, tomat, dan sayuran lainnya. Semua bibit ini bukan bibit hibrida, karena kalau bibit hibrida maka hasilnya tidak akan bisa dijadikan bibit lagi. Kemudian juga didapatkan bantuan alat pertanian, seperti parang, cangkul, linggis, dan ganco.

Kerja kelompok ini memberikan hasil yang cukup memuaskan. Lahan pertanian yang cukup luas dikerjakan dalam waktu yang cepat tanpa mengeluarkan uang. Dengan demikian, tidak ada lahan yang tidak dimanfaatkan karena keluarga yang memilikinya kekurangan tenaga kerja. Pemikiran anggota kelompok pun berkembang. Mulai Februari 2001, mereka menggarap kebun milik bersama (komunal), bukan hanya lahan milik pribadi anggota. Penghasilan dari kebun komunal ini masuk ke kas kelompok yang akan digunakan untuk keperluan bersama, misalnya membangun balai pertemuan dan membeli alat-alat pertanian milik bersama kelompok.

Kelompok tani ini menjadi semakin berkembang ketika sebuah organisasi non-pemerintah dari Jepang mengajak bekerjasama. PARC (Pacific Asia Resource Center) yang dulu terlibat dalam kampanye mendukung kemerdekaan Timor Leste, mengirim aktivisnya ke Timor Leste untuk melanjutkan solidaritas dengan membangun hubungan perdagangan yang adil (fair trade) antara petani Timor Leste dengan konsumen di Jepang.

Perdagangan yang adil adalah upaya yang dibuat sebagai alternatif terhadap pola perdagangan dunia yang tidak menguntungkan petani maupun konsumen, tetapi menguntungkan perusahaan besar dari negara-negara maju. Misalnya dalam perdagangan kopi, petani kopi mendapat harga yang rendah. Perusahaan-perusahaan yang membeli kopi dan kemudian mengolahnya menjadi produk jadi berupa kopi bubuk dan menjualnya di negara-negara maju, seperti Amerika, Prancis, dan Jepang mengambil keuntungan sangat besar. Konsumen juga tidak untung karena harga kopi di restoran sangat tinggi. Kalau harga kopi dunia turun, karena produksi kopi yang meningkat, yang rugi adalah petani. Harga yang diterima petani samakin turun, sementara perusahaan besar tetap untung. Dari segi risiko, bagi petani turunnya harga bisa membuat kebutuhan keluarga tidak bisa dipenuhi. Sementara bagi perusahaan besar, jika perdagangan kopi tidak lagi menguntungkan, mereka bisa mengalihkan modalnya untuk usaha lain. Pola perdagangan yang tidak adil ini berlaku di seluruh dunia sekarang.

Di dunia ini ada banyak organisasi non-pemerintah yang mengupayakan perdagangan yang adil. Mereka membangun jaringan sendiri yang bekerja memasarkan barang produsen di negara-negara sedang berkembang ke konsumen di negara-negara maju. Prinsipnya adalah saling menguntungkan antara produsen dan konsumen, dan tidak merusak lingkungan. PARC adalah salah satu organisasi di Jepang yang bersama organisasi-organisasi lain mendirikan Alter Trade Japan (ATJ) untuk menjalankan perdagangan yang adil. ATJ membeli produk para petani dan mengolahnya kemudian menjual hasil yang sudah diolah kepada konsumen di Jepang dengan harga yang relatif murah.

Di Timor Leste, PARC mendukung Kelompok Tani Liquilua yang semuanya memiliki tanaman kopi. Pada bulan Agustus 2002, dengan bantuan PARC, Kelompok Tani Liquilua mengolah kopi dalam persiapan untuk dikirim ke Jepang. Para petani harus memilih kopi dengan ukuran tertentu dan membersihkannya, selanjutnya diangkut ke Dili untuk diekspor melalui laut. Pengapalan dari Dili ke Jepang masih ditangani oleh PARC. “Dalam kerjasama kami dengan PARC dan ATJ di Jepang, tahun lalu kami mengirim enam ton lebih kopi bersih,” kata Francisco da Silva Borbosa, ketua umum kelompok tani ini kepada Rogério Soares dari Direito. Kopi sebanyak itu adalah hasil olahan dari 50 ton kopi kulit merah.


Kelompok tani Liquilua dan kemasan Kopi yang diolah dan dipasarkan di Jepang (Foto: Rogério Soares/Direito)

Di Jepang, ATJ menangani pengolahannya menjadi kopi bubuk. Kopi bubuk dibungkus dengan kemasan bagus diberi cap bendara nasional RDTL dan diberi merk Cafe Rai Timor. Pada kemasan juga ditulis keterangan bahwa kopi ini diolah dari biji kopi produksi kelompok petani di Maubisse. “Meskipun ada kekurangan dalam proses panen, para konsumen kopi kami di Jepang puas dengan kualitasnya,” kata Borbosa.

Bantuan PARC ini hanya bersifat sementara, di masa mendatang penyiapan kopi sampai pengirimannya ke Jepang menjadi tanggungjawab kelompok tani. Dengan demikian semakin banyak keuntungan yang akan didapatkan petani karena semakin besar kontrolnya atas perdagangan produknya.

Memperbaiki kehidupan petani perlu usaha yang keras. Meskipun sebagian dari produk mereka sudah diekspor, Kelompok Tani Liquilua masih harus melakukan banyak usaha. “Kerja kelompok kami sudah berjalan dengan baik, tetapi penghasilannya masih untuk dikonsumsi sendiri,” kata Vitor Maria Carlos (35 tahun), sekretaris Kelompok Tani Liquilua. Tetapi, menurut Barbosa, kebutuhan sehari-hari keluarga anggota kelompok sekarang sudah bisa dipenuhi.

Untuk meningkatkan wawasan, kelompok petani ini juga mengikuti kegiatan jaringan pengembangan pertanian berkelanjutan HASATIL (Hadomi Sustainabilidade Agrikultura Timor Lorosae). “Saya berharap kelompok bekerja lebih baik lagi untuk mengembangkan pertanian organik,” kata Francisco. Pertanian ini cocok dengan keadaan Timor Leste karena sejalan dengan pertanian berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan alam. “Pertanian yang kami kembangkan ini bisa memberikan kesejahteraan kepada petani sekarang dan di masa yang akan datang,” lanjutnya.

Kelompon Tani Liquilua tidak menjadikan kopi sebagai satu-satunya produk unggulan. “Kami juga menghasilkan sayuran seperti kentang, wortel, kacang merah, selada, bawang merah, dan bawah putih. Karena pemasarannya masih sulit, kami belum memproduksinya dalam jumlah banyak,” katanya. Kelompok yang sekarang sudah membesar dengan anggota lebih dari tiga puluh keluarga ini bertekad memperluas ladang garapan.

Untuk mengatasi masalah pemasaran, kelompok ini akan membangun jaringan dengan kelompok-kelompok tani di tempat-tempat lain seperti Maubara, Alas, dan Luro. Mereka akan menukar hasil pertanian mereka dengan hasil pertanian kelompok tani lain yang mereka perlukan seperti padi, jagung, dan kelapa. Mereka juga mencari kemungkinan untuk membangun jaringan untuk memasarkan produk selain kopi ke luar negeri. ***