|
Sebagian terbesar rakyat Timor Lorosae hidup dari pertanian. Supaya pertanian bisa memberikan kehiduapan yang baik di masa sekarang dan masa akan datang perlu ada sistem pertanian yang baik dan berkelanjutan. Orang Timor Lorosae sendiri perlu mencintai produk pertanian dalam negeri.
Expo Popular adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh para petani Timor Lorosae yang tergabung dalam HASATIL (Hametin Agrikultura Sustentavel Timor Leste) untuk mempromosikan produksi pertanian dalam negeri. HASATIL adalah sebuah jaringan yang terdiri dari kelompok-kelompok tani dan organisasi-organisasi non-pemerintahan baik nasional maupun internasional yang bergerak dalam bidang pertanian untuk mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan dan berwawasan lingkungan di Timor Lorosae.
Menurut rencana Expo Popular diselenggarakan oleh HASATIL setiap tahun. Tahun ini diselenggarakan Expo Popular kedua. Expo Popular pertama diselenggarakan pada bulan Mei 2002, di Taman Borja da Costa, Motael, Dili, saat Timor Lorosae menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintah transisi UNTAET. Expo Popular kedua diadakan tanggal 25-30 Agustus 2003 di tempat yang sama.
 Diskusi petani, pengusaha, dan anggota Parlemen Nasional (Foto: Rogério Soares/Direito)
|
Selain mempromosikan hasil produksi pertanian rakyat, dalam Expo Popular, para petani juga saling bertukar kepandaian dalam bidang pertanian. Mereka juga saling belajar mengenai berbagai macam teknologi tepat guna dalam mengolah pertanian. Expo Popular juga merupakan sarana bagi para petani untuk lebih mempererat hubungan, baik antar sesama petani dari berbagai daerah di Timor Lorosae, maupun dengan organisasi-organisasi non-pemerintah dan pemerintah untuk mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan di Timor Lorosae.
Seperti dikemukakan oleh Eugenio Fátima, koordinator HASATIL, pembangunan bangsa ini bukan tanggunjawab satu atau dua kelompok saja, atau tanggungjawab pemerintah saja, tetapi tanggunjawab semua komponen bangsa. “Lewat pengembangan pertanian, kita membangun bangsa ini menjadi makmur.” katanya lagi.
Hal ini juga ditegaskan oleh Presiden RDTL Xanana Gusmão saat membuka Expo Popular II (25/8/03). “Tanggungjawab membangun negeri ini bukan hanya ada di tangan pemerintah. Membuat negeri ini menjadi negeri yang makmur adalah tanggungjawab semua orang Timor Lorosae,” kata Presiden Xanana Gusmão. “Pertanian sangat penting untuk memakmurkan bangsa dan kita semua harus melakukan usaha agar pertanian rakyat bisa maju dan produk mereka bisa laku. Secara bertahap kita harus mengurangi impor. Untuk itu, pemerintah, NGO, pengusaha, dan para petani harus saling membantu,” lanjut Presiden.
Sebelum secara resmi membuka Expo ini, Presiden berkeliling mengunjungi setiap stand. Seluruhnya 28 kelompok petani, pengrajin, dan nelayan dari seluruh negeri Timor Lorosae menampilkan hasil karya dan alat produksi mereka. Selain hasil pertanian, juga ditampilkan barang-barang yang diolah dari hasil hutan maupun hasil pertanian, seperti obat-obatan tradisional, kursi yang dibuat dari rotan dan bambu, tikar dan anyam-anyaman lainnya, tais, dan sutra.
 Demonstrasi pembuatan pestisida organik Pada Expo Popular (Foto: Rogério Soares/Direito)
|
Gilman dos Santos, ketua panitia Expo Popular II yang juga direktur organisasi non-pemerintah yang sejak zaman Indonesia sudah bergiat mengembangkan pertanian, ETADEP, menyebutkan bahwa Expo Popular II secara khusus bertujuan mengembangkan hubungan kerjasama antara kelompok-kelompok petani dengan pengusaha, dan pemerintah dalam bidang pemasaran.
Selain itu juga untuk mempertunjukkan kepada masyarakat umum, kemampuan petani dan potensi pertanian rakyat Timor Lorosae untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan. “Melalui Expo ini, kami juga mempromosikan dan memasarkan produk para petani kita, serta memperkenalkan kepada para petani penggunaan berbagai macam teknologi tepat guna untuk pertanian,” kata Gilman dos Santos.
Dalam Expo Popular II, Gaspar Xavier dari kelompok petani Baricafa, subdistrik Luro, distrik Lautem mempertunjukkan cara pembuatan pestisida organik, yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan yang terdapat di desa-desa Timor Lorosae seperti tuha, bauk moruk, koan kout, maek, malus, ailia (jahe), daun tembakau, bunga paitan, dan bahan-bahan pahit lainnya.
Kelompok lain mempertunjukkan cara membuat pupuk organik, yaitu pupuk yang dibuat dari bahan-bahan yang ada di alam seperti daun-daunan dan sampah serta kotoran hewan.
Kelompok lain lagi mendemonstrasikan cara menggunakan teknologi tepat guna untuk pengawetan ikan. Juga ada pertunjukan pengolahan hasil pertanian dan masak-memasak dengan bahan-bahan lokal dan dengan alat-alat tradisional.
Menurut para petani yang sudah menggunakan pupuk organik dalam pertanian mereka, hasilnya tidak kalah dengan pupuk kimia. Tetapi pupuk organik punya kelebihan, yaitu tidak merusak tanah dan lingkungan, karena semua bahannya adalah alamiah. Selain itu, yang juga sangat penting, para petani tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak, karena bisa membuat sendiri pupuk tersebut dari bahan yang juga tidak perlu dibeli. Demikian pula pestisida organik. Selain menekan biaya, penggunaan pupuk dan pestisida organik berdampak terjadinya peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani tentang lingkungannya sendiri dan pemanfaatannya.
Setelah pertunjukan pembuatan pestisida organik, para petani melakukan dialog untuk bertukar pengalaman tentang bahan-bahan yang paling efektif untuk membasmi hama tanaman. “Semua tumbuhan yang pahit bisa dijadikan bahan pestisida,” kata Gaspar Xavier dari kelompok tani Baricafa.
Para petani peserta Expo Popular dan para pengunjung begitu antusias mendengarkan dan menanyakan tentang bahan dan proses pembuatan pestisida karena merasa sangat membutuhkannya untuk menghadapi serangan hama dan penyakit pertanian. “Sebagai petani, kami sangat membutuhkan cara untuk membasmi hama dan penyakit yang menyerang tanaman kami di sawah dan kebun,” kata tiu Manuel, seorang peserta Expo Popular II dari kelompok petani Uatolari.
Untuk lebih meningkatkan wawasan para petani dan saling membagi informasi, pada Expo Popular II juga diselenggarakan diskusi-diskusi tentang bermacam-macam topik yang relevan untuk pengembangan pertanian rakyat.
Diskusi itu tidak hanya antar petani tetapi juga antara petani dengan pemerintah, anggota Parlemen Nasional, dan para pengusaha Timor Lorosae yang tergabung dalam Camara do Comercio de Timor Lorosae (CCT). Diskusi berkisar bagaimana petani Timor Lorosae bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pertanian, mekanisme pemasaran hasil pertanian rakyat, kebijakan pemerintah tentang pembangunan pertanian dan mekanisme pemasaran hasil produksi petani, juga diskusi tentang nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan pertanian.
Pada malam hari diselenggarakan pertunjukan budaya. Di panggung yang terletak di ujung timur Taman Francisco Borja da Costa digelar bermacam-macam karya budaya petani yang menunjang pengembangan pertanian dan secara umum menunjang pengembangan kebudayaan nasional rakyat Timor Lorosae.
Melalui diskusi-diskusi telah dicapai suatu kesepakatan bersama antara para pengusaha Timor Lorosae dengan para petani untuk mengadakan kerjasama memasarkan produksi pertanian rakyat. Para pengusaha bersedia menampung hasil pertanian rakyat untuk dipasarkan. Masalahnya sekarang kembali kepada para petani sendiri. Mereka harus bekerja keras agar bisa menyediakan barang hasil pertanian dalam jumlah tertentu dan mutu yang baik, serta secara terus-menerus. Dalam hal ini jelas diperlukan peran pemerintah untuk mendukung para petani mewujudkan potensi mereka. Para petani juga berharap agar Parlemen Nasional mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mengembangkan dan melindungi pertanian rakyat, bukan membiarkan produk pertanian rakyat bersaing dengan produk dari luar negeri.
Kegiatan Expo Popular dimeriahkan dengan pawai keliling kota Dili. Para petani membawa hasil pertanian mereka seperti jagung, ubi, padi, kelapa, dan alat-alat pertanian mereka. Mereka juga menghias badan mereka dengan daun-daunan dan bunga-bungaan. Kelompok-kelompok seni juga ambil bagian dalam pawai ini. Sepanjang jalan para peserta bergembira menyanyi, menari, dan memainkan musik tradisional. ***
|